Tentang kita,Pelupa.
Tak usah kesana di sana ada Luka.
Tujuh empat.
Merah dan putih. Berkibar diujung. Angin kecang Menghantam sang saka.
Di ujung tiang mati itu
Ia Tak ada teman.
Sendirian sepi telah tujuh empat.
Luka.
Duka.
Bahagia.
Sang saka Tetap setia Menahan kesepian Diujung tiang mati Tak bertepi.
Kau ingat bukan. Kawan.
Di Negeri sejarah Penuh tetesan darah ini Manusia telah teteskan darah kesucian Membela,menelan kesakitan,menerimah hinaan. Demi Tanah demi Bangsa,demi merebut Revolusi Di negeri ini.
Tetesan Demi tetasan darah Mengalir Ditanah Tak bersalah di tumbalkan Pemberontak di Bunuh.
Di paksa kerja tanpa makan
Di medan mereka membela Demi kita.
Kita ingat bukan.
Perjuangan.
Berjuang tak henti.
Di merah dan putih Lambang yang di kibarkan.
Darah dan kecusian telah di torehkan Merah dan putih Darah yang mengalir.
Sedangkan kita.
Sibuk mengumbar luka.
Tak banyak paham sejarah.
Tak henti henti mengelorakan Kehancuran.
BY.A Ama_D
Tujuh empat.
Merah dan putih. Berkibar diujung. Angin kecang Menghantam sang saka.
Di ujung tiang mati itu
Ia Tak ada teman.
Sendirian sepi telah tujuh empat.
Luka.
Duka.
Bahagia.
Sang saka Tetap setia Menahan kesepian Diujung tiang mati Tak bertepi.
Kau ingat bukan. Kawan.
Di Negeri sejarah Penuh tetesan darah ini Manusia telah teteskan darah kesucian Membela,menelan kesakitan,menerimah hinaan. Demi Tanah demi Bangsa,demi merebut Revolusi Di negeri ini.
Tetesan Demi tetasan darah Mengalir Ditanah Tak bersalah di tumbalkan Pemberontak di Bunuh.
Di paksa kerja tanpa makan
Di medan mereka membela Demi kita.
Kita ingat bukan.
Perjuangan.
Berjuang tak henti.
Di merah dan putih Lambang yang di kibarkan.
Darah dan kecusian telah di torehkan Merah dan putih Darah yang mengalir.
Sedangkan kita.
Sibuk mengumbar luka.
Tak banyak paham sejarah.
Tak henti henti mengelorakan Kehancuran.
BY.A Ama_D


Comments